PENGEMBANGAN KARAKTER MELALUI OLAHRAGA

  1. HAKIKAT KARAKTER
  • Karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan tiap akibat dari keputusan yang dibuat. Terdapat sembilan pilar karakter yang berasal dari nilai-nilai luhur universal, yaitu: (1) karakter cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya, (2) kemandirian dan tanggungjawab, (3) kejujuran, amanah dan diplomatis, (4) hormat dan santun, (5) dermawan, suka tolong-menolong dan gotong royong serta kerjasama, (6) percaya diri dan pekerja keras, (7)  kepemimpinan dan keadilan, (9) baik dan rendah hati, (9) karakter toleransi, kedamaian dan kesatuan
  • Karakter merupakan sebuah konsep moral yang tersusun dari sejumlah karakteristik yang dapat dibentuk melalui aktivitas olahraga. Setidaknya terdapat nilai-nilai yang baik yang dapat dibentuk melalui aktivitas olahraga, antara lain: rasa kasih sayang (compassion), keadilan (fairness), sikap sportif (sport-personship), dan integritas (integrity) (Weinberg dan Gould.2007:552). Menurut Martens, untuk membentuk karakter peserta didik dapat ditempuh dengan tiga tahap: (1) mengidentifikasi prinsip-prinsip karakter yang akan ditransferkan, (2) mengajarkan prinsip-prinsip karakter, dan (3) memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mempraktikkan karakter.  Pada tahap mengajarkan prinsip-prinsip karakter meliputi enam strategi pendekatan yang dipakai, yaitu: (1) menciptakan suasana moral tim yang kondusif, (2) model perilaku moral, (3) menyusun regulasi untuk perilaku yang baik, (4) menerangkan dan mendiskusikan perilaku moral, (5) menggunakan dan mengajarkan pengambilan keputusan yang etis, dan (6) memotivasi pemain untuk mengembangkan karakter yang baik. Pada tahap memberikan kesempatan kepada partisipan olahraga untuk praktik melalui rutinitas perilaku yang baik dalam setiap latihan dan pertandingan, dan memberikan hadiah bagi olahragawan, pelatih, dan pembina olahraga yang memiliki perilaku karakter yang baik.
  1. MODEL PENGEMBANGAN KARAKTER MELALUI OLAHRAGA

Salah satu  metode pembentukan karakter adalah melalui pembelajaran atau proses berlatih.  Menurut (Selleck, 2003: 36), ada tujuh aksi krusial untuk membimbing atlet menjadi olahragawan yang berkarakter baik. Tujuh aksi yang dimaksud meliputi langkah-langkah sebagai berikut:

1)      Mengetahui Bagaimana untuk Kalah

Seorang guru pendidikan jasmani atau pelatih harus menjelaskan pada siswa atau atletnya, bahwa dalam sebuah pertandingan itu  harus ada yang menang dan ada yang kalah. Kekalahan bukan akhir segalanya sebab kekalahan dapat digunakan sebagai bahan evaluasi, sekaligus sebagai parameter akan kemampuan diri dan lawan yang dihadapi. Agar seorang atlet dapat memahami arti kekalahan, yang dilakukan oleh guru atau pelatih adalah langkah-langkah sebagai berikut. Diskusikan dengan siswa atau atlet Anda tentang apa yang akan mereka lakukan jika mereka kalah. Jangan izinkan siswa/atlet Anda menyalahkan kekalahan karena cedera karena teman satu tim atau karena guru/pelatih. Bantu siswa atau atlet Anda mengenali konsekuensi atas kesalahan di lapangan. Diskusikan dengan siswa/atlet tentang konsekuensi kesalahan di lapangan seperti pemberian penalti yang hanya akan merugikan tim. Bantu siswa/atlet Anda mengendalikan stress dengan lebih baik, terus berupaya dan terus meningkatkan pengendalian emosi, jangan hanya bicara kemenangan. Dorong siswa/atlet Anda untuk memberikan pujian kepada musuhnya. Mereka harus selalu ingat bahwa terkadang lawan dan pelatih mereka menampilkan permainan/unjuk kerja lebih baik.

2) Memahami Perbedaan antara Kemenangan dan Kesuksesan

Sebagian pelatih percaya, jika Anda menjadi pemenang dalam olahraga, Anda akan mencapai sukses, dan Anda tidak akan sukses, jika Anda tidak menang. Sosiolog Marty Miller (dalam Selleck, 2003: 42) menyatakan bahwa kemenangan dan kesuksesan tidak sama. Sukses adalah usaha, perasaan yang baik, persahabatan, memberi kontribusi, menambah keterampilan dan memiliki kegembiraan. Sementara kemenangan atau kegagalan dengan mudah dapat dilihat melalui hasil pertandingan. Kenyataan menunjukkan bahwa kebanyakan pelatih yang diinginkan adalah kemenangan. Dalam sebuah pertandingan pelatih sering berkata, di sini kita hanya untuk satu alasan, yaitu untuk menang, dan jika kamu hanya untuk bersenang-senang lebih baik kamu pulang saja. Jika ada atlet atau anak baru selesai beranding, pertanyaan pelatih atau orang tua yang baik adalah tidak menanyakan apakah tadi kamu menang, melainkan apakah kamu tadi merasa senang dalam pertandingan, atau apa yang Anda pelajari dari pertandingan tadi? Steffi Graf, salah satu pemain tenis terbaik dunia, mengatakan pencapaian atas keberhasilannya itu tidak begitu penting baginya, yang terpenting adalah bermain dengan baik, dan berbuat yang terbaik di setiap pertandingan.

Dengan demikian, yang dimaksud kemenangan adalah pencapaian hasil dilihat dari siapa yang menang, sedangkan kesuksesan adalah pencapaian hasil dilihat dari proses pendidikannya. Agar seorang atlet dapat memahami perbedaan antara kemenangan dan kesuksesan, yang dilakukan oleh guru/pelatih adalah dengan langkah-langkah sebagai berikut, (a) Ingatkan pada siswa/atlet Anda bahwa mereka harus berpartisipasi di olahraga adalah untuk kesenangan berolah raga itu sendiri. (b) jika mereka tidak senang, guru/pelatih  harus berbicara kepada mereka untuk mencari tahu apakah itu hanya perasaan sementara (mungkin karena performa yang buruk) atau masalah jangka panjang.  (c) guru/pelatih harus selalu mendukung perasaan mereka dan biarkan mereka tahu bahwa Anda akan mendukung apa pun keputusan tentang karir olahraganya, (d) Ajari siswa/atlet Anda bahwa bekerja dan berusaha dengan jujur adalah lebih baik dari kemenangan, (e) Bantulah siswa/atlet Anda bagaimana dapat meningkatkan keterampilan dan sportif dalam setiap permainan, (f) Ingatkan pada siswa/atlet Anda bahwa orang yang paling sukses melakukan pekerjaan adalah karena mereka mencintainya bukan karena melihat bayaran yang besar(g) Hindari memakai pencapaian dengan mengacu pada kakak seniornya atau atlet lain yang lebih sukses  sebagai standar kesuksesan.

3) Menghormati Orang Lain

Setiap orang yang terlibat dalam olahraga harus saling menghormati dan menghargai. Menghormati dan menghargai orang lain merupakan bagian penting dalam olahraga. Dalam olahraga ada wasit, ada atlet dan ada pelaih. Unsur-unsur ini harus saling menghargai sesuai keputusan dan aturan yang ada. Agar seorang atlet dapat menghormati orang lain, yang dilakukan oleh guru/pelatih adalah dengan langkah-langkah sebagai berikut, (a) hindari kebiasaan mengeluh atau menyalahkan orang lain sebab kebiasaan ini menunjukkan ketidakmampuan menjalankan peran dan tanggung jawabnya sebagai pemain, (b) hindari tindakan selebrasi yang berlebihan ketika merayakan kemenangan karena selebrasi yang berlebihan dapat dianggap mengecilkan kemampuan lawan. Justru yang terpenting adalah bagaimana menghampiri teman satu tim, karena tanpa teman mungkin Anda tidak bisa melakukan hal itu, (c) jangan membiarkan siswa/atlet Anda memakai nama ejekan, dan jangan membiasakan berbicara kasar ketika berbicara pada orang lain. Biasakan bicara pada siswa/atlet  Anda tentang bagaimana cara yang baik berkomunikasi dengan orang lain, (d) perlakukan pemain lain dengan rasa hormat. Jangan membiarkan siswa/atlet Anda berkata tentang hal buruk kepada pelatih lawan, official, atau pun pemainnya. Jika ada masalah, katakan langsung kepada orangnya dan bicarakan kepadanya dengan baik-baik, (e) ingat bahwa siswa/atlet Anda punya hak untuk bermain dan jangan sampai merasa  malu atas komentar anda, (f) jika Anda benar-benar tidak bisa melewati pertandingan tanpa mempermalukannya, pastikan Anda berada di jarak yang cukup jauh sehingga komentar Anda tidak dapat didengar, jika tidak mampu menahan lebih baik Anda meninggalkannya, (g) ajarkan pada siswa/atlet untuk membiasakan berterimakasih kepada guru/pelatih. Ini adalah bagian dari mengajari siswa/atlet Anda tentang mengenali dan menghargai apa yang orang lain lakukan terhadapnya.

4) Bekerja Sama dengan Orang Lain

Olahraga merupakan arena kompetisi. Dalam arena kompetisi umumnya dianggap persaingan satu sama yang lain demi menjadi salah satu sebagai pemenang atau yang kalah. Meski demikian, dalam olahraga banyak kesempatan bagi individu untuk bekerja sama satu dengan yang lain. Salah satu yang paling nyata adalah kerjasama satu tim untuk memenangkan pertandingan. Olahragawan juga berkesempatan untuk bekerjasama dengan para pejabat, politisi, lawan main, ataupun penonton.

Dalam meningkatkan kerjasama dengan orang lain dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai brikut. Pastikan siswa/atlet Anda tentang kerjasama seperti apa yang Anda harapkan darinya. Beri mereka contoh yang jelas seperti “Saya harap kamu mendukung semua anggota tim bukan hanya teman dekatmu”. Mulailah dengan sistem reward atau pujian dengan memberikan hadiah karena tingkah laku kerjasama mereka baik. Contohnya, jika Anda memunyai siswa/atlet pemain bola basket, kamu dapat menghitung berapa banyak dia mengoper bola, dan ajaklah pergi minum es krim bersama jika dia dapat mencapai angka besar, misalnya 50 operan bola. Libatkan pemain dalam menentukan misi umum, mengambil keputusan dan diskusikan tujuan-tujun yang hendak dicapai dengan berkomunikasi secara terbuka dan sering. Anjurkan membuat kelompok latihan dengan melibatkan teman yang sulit dan tidak disukai meskipun ini pekerjaan yang sulit

5) Tunjukkan Integritas

Integritas adalah seseorang yang jujur, memiliki prinsip yang kuat, dan konsisten terhadap ketentuan yang ada meskipun terkadang berhadapan dengan pilihan yang sulit, jauh dari tekanan dan godaan. Diceritakan oleh Seleck (2003: 119-122) ada pegolf amatir di AS yang bernama Howard tengah berlomba pada kualifikasi kejuaaraan amatir. Dalam perlomban tersebut diatur bahwa setiap pegolf hanya diperbolehkan menggunakan satu jenis bola. Ketika dia di lapangan dan dia mengetahui bahwa bola yang ada di tasnya ada dua jenis bola, apa yang dia lakukan? Orang berpikiran dia akan mengembalikan ke caddy-nya, ternyata dia mendiskualifikasi dirinya sendiri. Bagi dia kemenangan tidak sepenting integritas pribadinya.

Dalam mengembangkan integritas pada siswa atau atlet dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut. Jangan tanamkan pada siswa atau atlet bahwa kemenangan adalah segala-galanya. Tanamkan sikap sportif dan menghargai lawan lebih penting daripada suatu pencapaian. Pentingkan kejujuran sebagai sebuah nilai dalam keluargamu. Beriakan contoh dari kejujuran dan kebenaran. Jangan pernah minta siswa/atlet Anda untuk berbohong. Biarkan siswa atau atlet Anda  melihatmu melakukan kejujuran. Lakukan kesalahan dan biarkan siswa atau atlet Anda melihat bagaimana anda memperbaikinya. Dalam olahraga mudah diketahui mana yang salah dan mana yang benar. Bantulah siswa atau atlet Anda mengapresiasi dan menghargai peraturan pertandingan yang ada. Ingatkan siswa atau atlet anda bahwa kemenengan diperoleh jika peraturan yang ada diikuti dengan baik. Tekankan pada siswa/atlet Anda jangan berlaku kasar yang cenderung mencelakai lawan karena dapat menimbulkan luka serius bagi lawan atau bagi Ada sendiri.

6) Tunjukkan  Rasa Percaya Diri

Atlet yang memiliki rasa percaya diri (self confidence) yang baik percaya bahwa dirinya akan mampu menampilkan kinerja olahraga seperti yang diharapkan (Weinberg & Gould, 2007:324). Rasa percaya diri akan membawa seseorang dapat, (a) membangkitkan dan mengendalikan emos positif  (b) lebih mudah berkonsentrasi pada aktivitas yang dijalani, (c) tidak mudah patah semangat atau frustasi dalam berupaya mencapai cita-cita, (d) cenderung mengembangkan berbagai strategi untuk memperoleh hasil kerjanya dan berani mengambil resiko atas strategi yang dipilihnya. Untuk mengembangkan rasa percaya diri pada siswa/atlet dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut, (a) sebisa mungkin biarkan siswa/atlet  Anda menentukan keputusan mereka sendiri, (b) bantulah  siswa/atlet  Anda meningkatkan kompetensi olahraga mereka. Habiskan waktu berlatih dengan mereka, (c) dukung siswa/atlet  Anda baik dalam sebuah tim atau tidak masuk tim, (d) ekspresikan kepercayaan diri pada siswa/atlet  Anda, berikan mereka banyak feedback yang positif, (e) ajari siswa/atlet  Anda bagaimana menggambarkan sesuatu, yaitu gambaraan tentang penampilan mereka sendiri dikala sukses dalam situasi apa pun, (f) setiap siwa/atlet diminta merasakan dan menghayati penampilan yang terbaik sesuai kemampuan yang dimiliki. Agar perasaan berhasil ini dapat dicapai seorang atlet sebaiknya mengembangkan harapan yang tidak terlalu berlebihan dan mendekati realitas kemampuan yang dimilikinya. Namun, harapan ini secara bertahap hendaklah senantiasa  semakin meningkat, (g) berikan apresiasi atas apa yang dilakukan atlet secara wajar terutama bila  dapat memeragakan suatu keterampilan yang sesuai dengan harapan, berikan kesempatan pada siswa/atlet belajar dengan model yang diberikan lewat media audio visual, (h) berikan persuasi verbal, yaitu pernyataan yang membesarkan hati atlet, bisa berasal  dari pelatih, pembina, orangtua, atau bahkan dari diri atlet yang bersangkutan. Pada situasi demikian, guru/pelatih seyogyanya menghindari tindakan mencela dan berusaha memberikan pernyatan yang bernada positif.

7) Memberikan Kembali (Giving Back)

Memberikan kembali mempunyai maksud setelah olahragawan berhenti sebagai atlet yang masih aktif hendaknya tetap melayani masyarakat. Olahragawan yang sudah masuk usia pensiun terkadang menghilang dari pemberitaan dan tergusur leh atlet yang lebih muda. Untuk menghindari kenyataan ini, dianjurkan para mantan olahragawan bisa mendorong anak-anak di sekitarnya untuk mengembangkan bakat mereka untuk mendukung kegiatan sekolah dan masyarakat.Dalam mengembangkan sikap giving back pada siswa atau atlet dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut, (a) diskusikanlah dengan siswa/atlet Anda tentang pentingnya “giving back”. Tanyakan pada mereka bagaimana mereka dapat berguna bagi anggota keluarga yang lain, tetangga, orang-orang disekolah, teman bermain dan kalangan olahraga lainnya dan masyarakat pada umumnya, (b) diskusikan dengan siswa/atlet Anda tentang pentingnya kualitas seluruh pengalaman olahraga daripada menang atau kalah, (c) bantulah siswa/atlet Anda menentukan tujuan daripada kemenangan. Memang kemenangan bisa menjadi sebuah tujuan, tetapi mereka harus memeliki tujuan seperti kegembiraan atau berkerja untuk tim. Itulah mengapa, mereka dapat berkata bahwa mereka tidak menang, tetapi mencapai tujuan mereka., (d) dukung siswa/atlet Anda untuk give back kepada yang lainnya dengan cara mengajari orang lain kemampuan berolahraga atau kemampuan lainnya.

By arumtry

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s